Apatis 2025: Dari “Unwritten” Menjadi Cerita Baru Generasi Z




(Sumber foto: Salman Alfarizi)


DNEWS - Generasi Z selama ini sering menjadi sasaran stereotip. Sebagian orang menilai mereka manja, terlalu sibuk dengan gadget, dan tidak cukup dewasa menghadapi tantangan. Namun, narasi ini tidak sepenuhnya benar. Di balik pandangan miring tersebut, banyak anak muda yang sebenarnya produktif, kreatif, dan penuh gagasan inovatif. Sayangnya, sisi positif itu sering kali tidak tercatat dalam wacana publik.

Menyadari hal itu, komunitas seni independen Apresiasi Kreatifitas inisiasi dari mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta jurusan Teknik Grafika Penerbitan mengusung tema “Unwritten” dalam acara tahun ini. Tema ini melambangkan upaya generasi muda untuk menuliskan sendiri cerita positif mereka yang sebelumnya tidak terdengar. Lewat karya seni, festival ini ingin menunjukkan bahwa Gen Z bukan hanya bisa berkarya, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata.

Perjalanan Apatis Unwritten

Gagasan untuk menyelenggarakan Apatis 2025 muncul pada Februari 2025. Sekelompok mahasiswa yang gemar dengan pameran seni berinisiatif membuat sebuah ruang apresiasi yang benar-benar independen. Mereka ingin menghadirkan pameran tanpa campur tangan institusi, sekaligus membuktikan bahwa sebuah komunitas bisa berdiri mandiri, mengelola acara besar, dan memberi dampak positif tanpa harus membebani pihak lain.

“Awalnya kami hanya ingin membuat ruang di mana seni bisa tampil tanpa beban birokrasi. Ternyata, ide ini justru mendapat sambutan hangat,” kata Keysha Ismi Najwa Sidarta, salah satu panitia yang juga berperan penting dalam acara ini. Baginya, pengalaman menjadi bagian dari Apatis adalah kesempatan untuk memahami bagaimana sebuah exhibition disiapkan dari awal hingga akhir.

Perjalanan panjang itu kemudian mengantarkan pada pra-event tanggal 13 September 2025. Pra-acara ini menjadi ajang pemanasan yang sekaligus memperkenalkan konsep “Unwritten” kepada publik sebelum acara puncak berlangsung pada 26–28 September 2025.

Suasana Festival: Seni yang Hidup dan Interaktif

Ketika acara utama berlangsung, suasana Apatis 2025 benar-benar hidup. Bukan sekadar galeri seni yang statis, melainkan festival yang mengajak pengunjung untuk ikut terlibat secara langsung. Seniman dari berbagai latar belakang menunjukkan karya mereka melalui live mural yang dikerjakan langsung di lokasi, sementara battle mural menampilkan adu kreativitas yang seru dan menarik perhatian.

Di sisi lain, pengunjung bisa mengikuti workshop untuk belajar langsung dari para seniman. Ada pula art market yang menjadi ruang transaksi kreatif, tempat seniman menjual karya maupun merchandise, sekaligus sarana pengunjung membawa pulang sebagian kecil dari pengalaman seni yang mereka saksikan.

Tidak berhenti di situ, pengunjung juga bisa bersenang-senang di photobooth, menikmati alunan musik akustik, hingga larut dalam energi panggung DJ performance. Bahkan, ada meja tenis meja yang disiapkan khusus untuk mencairkan suasana. Kombinasi antara seni rupa, musik, hingga permainan ringan membuat Apatis 2025 menjadi ruang seni yang inklusif, hangat, dan penuh interaksi.

Ruang Belajar Panitia Muda

Bagi pengunjung, Apatis adalah hiburan. Namun, bagi panitia, acara ini adalah ruang belajar yang penuh tantangan. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali terlibat dalam penyelenggaraan pameran seni. Dari situ, mereka belajar tentang manajemen acara, komunikasi lintas komunitas, hingga kerja sama tim yang solid.

“Rasanya menyenangkan bisa terlibat di Apatis. Selain karena saya menyukai exhibition seni, saya jadi tahu proses di baliknya. Itu pengalaman berharga,” ungkap Keysha. Baginya, pengalaman ini bukan hanya soal menambah keterampilan, tetapi juga menciptakan kenangan baru dan semangat yang lebih tinggi untuk berkarya.


(Sumber foto: Salman Alfarizi)


Jejaring Kreatif yang Semakin Luas

Meski berdiri independen, Apatis tidak berjalan sendirian. Tahun ini, mereka menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas kreatif seperti Krafthings, Teriak, KMDGI, dan jaringan kampus lainnya. Kehadiran mitra ini memperkuat Apatis sebagai ruang temu lintas komunitas, tempat ide-ide baru bertemu dan berkembang.

Setiap tahun, tema yang diusung Apatis selalu berbeda, begitu pula dengan bentuk kegiatannya. Hal ini membuat acara ini selalu menghadirkan nuansa segar dan pengalaman baru, baik bagi pengunjung, seniman, maupun panitia.

Gratis, Inklusif, dan Bermakna

Salah satu nilai sosial yang paling terasa dari Apatis 2025 adalah keterbukaannya. Semua kegiatan bisa dinikmati tanpa biaya. Tidak ada tiket masuk, tidak ada syarat khusus. Semua orang, dari berbagai kalangan, bisa hadir dan ikut merasakan atmosfer seni.

Bagi masyarakat, ini adalah kesempatan langka untuk menikmati pameran seni tanpa harus mengeluarkan uang. Bagi seniman, ini adalah panggung apresiasi yang inklusif. Sementara bagi panitia, ini adalah wadah pembelajaran yang memperkaya pengalaman hidup. “Dampak positifnya jelas. Orang bisa menikmati seni dengan cara ringan, seniman merasa dihargai, dan Gen Z bisa membuktikan mereka punya sisi positif yang sering dilupakan,” ujar Dimasqi.

Dari “Unwritten” Menjadi Written

Pada akhirnya, Apatis 2025 bukan hanya sekadar festival seni. Ia adalah ruang sosial, wadah pembuktian, sekaligus panggung narasi baru untuk generasi Z. Melalui “Unwritten”, anak-anak muda membuktikan bahwa mereka tidak hanya bisa berkarya, tetapi juga bisa menuliskan cerita mereka sendiri dengan cara yang indah dan kreatif.

“Kalau dulu cerita positif tentang Gen Z jarang ditulis, sekarang biar kami sendiri yang menuliskannya lewat karya,” ujar Dimasqi dengan senyum bangga.

Dengan segala rangkaian kegiatan, kolaborasi komunitas, hingga dampak sosial yang dihasilkan, Apatis 2025 berhasil mengubah label negatif menjadi energi positif. Setiap mural, musik, dan karya yang ditampilkan kini bukan lagi “unwritten”, melainkan sudah menjadi cerita nyata tentang generasi yang kreatif, mandiri, dan penuh daya cipta.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama