DNEWS – Embun masih melekat di dedaunan ketika belasan mahasiswa yang tergabung dalam komunitas Grammountain memulai langkah mereka dari Basecamp Putri, Cibodas, Minggu (7/9/2025) pukul 05.30 WIB. Dengan ransel besar di punggung, mereka menapaki jalur pendakian Gunung Gede yang terkenal menantang.
Udara pagi yang sejuk bercampur aroma tanah basah sisa hujan semalam menambah suasana pendakian. Jalur menanjak dan bebatuan licin sempat menjadi ujian sejak awal perjalanan. Namun, tawa dan canda para mahasiswa itu menjadi energi tambahan untuk mengusir lelah.
“Awalnya cukup berat karena jalurnya licin, tapi suasana ramai-ramai bikin capeknya terasa lebih ringan,” ungkap Raka, salah seorang anggota komunitas.
Menembus Jalur Hutan Menuju Surya Kencana
Seiring matahari naik, sinar keemasan mulai menembus sela pepohonan hutan tropis di jalur Putri. Rombongan yang terdiri dari 12 orang itu beberapa kali berhenti untuk istirahat dan mengatur napas. Di pos demi pos, mereka saling menyemangati dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
Sekitar pukul 11.30 WIB, setelah enam jam mendaki, mereka akhirnya tiba di Alun-Alun Surya Kencana. Kawasan padang savana seluas 50 hektare ini langsung menyambut dengan hamparan rumput hijau dan bunga edelweis yang mekar.
“Begitu sampai Surya Kencana, semua langsung lepas lelah. Rasanya luar biasa melihat hamparan padang luas dan edelweis yang indah,” ujar Dida, mahasiswa yang juga ikut dalam rombongan.
Di Surya Kencana, suasana akrab semakin terasa. Sambil menikmati bekal makan siang, mereka saling berbagi cerita, bercanda, hingga mengabadikan momen dengan kamera.
Mendaki ke Puncak
Setelah beristirahat hampir dua jam, perjalanan kembali dilanjutkan menuju puncak Gunung Gede. Medan semakin menanjak, jalur didominasi bebatuan besar, membuat tenaga benar-benar terkuras.
Meski begitu, semangat kebersamaan menjadi kunci utama. Satu sama lain saling membantu, mulai dari berbagi air minum hingga menarik tangan teman yang mulai kelelahan.
Tepat pukul 15.00 WIB, rombongan berhasil mencapai Puncak Gunung Gede dengan ketinggian 2.958 mdpl. Hawa dingin menusuk tulang disertai kabut tipis tak menyurutkan kegembiraan mereka.
“Capeknya hilang semua begitu sampai puncak. Apalagi bisa bareng teman-teman sejurusan, momen ini pasti jadi kenangan berharga,” kata Deven, ketua komunitas Grammountain, sambil tersenyum lebar di depan kawah yang mengepulkan asap tipis.
Filosofi Kebersamaan di Gunung
Bagi komunitas Grammountain, pendakian bukan sekadar menaklukkan ketinggian, melainkan juga menumbuhkan rasa peduli dan solidaritas. Di sepanjang perjalanan, tidak ada yang berjalan sendiri.
“Kami ingin menunjukkan kalau pendakian bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling peduli dengan temannya. Itu filosofi yang kami pegang di komunitas ini,” jelas Deven.
Hal serupa diungkapkan Inayah, salah satu anggota perempuan yang ikut pendakian. “Jujur, saya hampir menyerah di tengah jalan. Tapi teman-teman nggak berhenti nyemangatin. Akhirnya bisa juga sampai puncak. Rasanya bangga sekali.”
Menutup Hari dengan Rencana Baru
Menjelang sore, rombongan memutuskan turun kembali menuju Surya Kencana untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan turun ke basecamp keesokan harinya. Sambil menikmati udara dingin pegunungan, obrolan mereka mengalir ringan, bahkan sebagian sudah merencanakan pendakian berikutnya.
“Setelah Gede, kami ingin menantang diri ke Gunung Pangrango atau mungkin Gunung Slamet. Bukan hanya sekadar mendaki, tapi juga mengajak mahasiswa lain lebih dekat dengan alam,” ujar Walid antusias.
Pendakian Gunung Gede via Putri ini menorehkan kenangan berharga bagi komunitas Grammountain. Selain keberhasilan menaklukkan ketinggian, mereka pulang membawa pelajaran tentang arti kebersamaan, perjuangan, dan keindahan alam yang harus dijaga.

