Panggung Night At The Library Hidupkan Malam di Taman Ismail Marzuki




(Sumber foto : Andika Rahmat Hidayat)


DNEWS – Suasana berbeda terasa di Perpustakaan Jakarta, Jumat malam (12/9/2025). Biasanya ruang perpustakaan identik dengan keheningan dan tumpukan buku, kali ini berubah menjadi panggung diskusi, musik, hingga puisi. Ratusan pengunjung hadir dalam acara bertajuk “Panggung Generasi: Pewaris, Perintis, atau Keduanya?” yang menjadi bagian dari program Night at the Library.

Sejak sore, antrean pengunjung sudah terlihat di area depan perpustakaan. Tiket acara yang dibuka sehari sebelumnya melalui situs resmi perpustakaan habis dalam hitungan jam. “Saya sengaja datang lebih awal karena tidak mau kehabisan tempat duduk. Apalagi ada Cinta Laura dan Sal Priadi, pasti seru,” kata Indah (24), mahasiswa yang datang bersama dua temannya.

Wagub DKI Jakarta Hadir

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, yang secara khusus memberikan sambutan. Dalam pidatonya, ia menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun Jakarta ke depan.
“Generasi hari ini bukan hanya penerus, tapi juga pencipta sejarah baru. Melalui ruang-ruang kreatif seperti ini, kita bisa melihat bagaimana anak muda menyalurkan gagasan dengan cara yang segar dan inspiratif,” ujar Rano Karno.

Kehadiran Wagub semakin menambah antusiasme pengunjung. Banyak yang terkesan dengan gaya komunikasinya yang dekat dengan anak muda.

Perpaduan Kata, Musik, dan Puisi

Acara dimulai pukul 18.30 WIB. Lampu-lampu ruangan disulap menjadi hangat dan intim, menciptakan suasana akrab antara pembicara dan penonton. Satu per satu tokoh yang hadir memperkaya diskusi tentang generasi muda: Cinta Laura, musisi Sal Priadi, penulis Kang Ripay, dan penyair muda Esha Tegar.

Diskusi berlangsung cair. Cinta Laura menekankan pentingnya generasi muda untuk tidak hanya mewarisi, tetapi juga merintis gagasan baru. “Kalau kita hanya jadi pewaris, kita berhenti di masa lalu. Kalau kita berani jadi perintis, kita menciptakan masa depan,” ucapnya, disambut tepuk tangan pengunjung.

Sementara itu, Sal Priadi menghadirkan perspektif berbeda lewat musik. Dengan gitarnya, ia membawakan dua lagu bertema perjalanan hidup anak muda, membuat suasana hening berubah penuh sorak dan nyanyian bersama. “Kadang kita tidak sadar kalau lagu juga bisa jadi cara untuk memahami siapa diri kita,” ujarnya.

Kang Ripay dan Esha Tegar menutup sesi dengan puisi yang menggetarkan. Kata-kata mereka menggugah audiens untuk merenungkan peran generasi sekarang: apakah hanya melanjutkan, atau juga menciptakan sesuatu yang baru.

Antusiasme Pengunjung

Bagi pengunjung, acara ini bukan sekadar hiburan. Banyak yang mengaku mendapatkan semangat baru. “Rasanya seperti ngobrol dengan teman sebaya, tapi juga belajar dari pengalaman mereka. Jadi lebih yakin kalau generasi kita memang bisa jadi pewaris sekaligus perintis,” kata Rafi (27), pekerja kreatif.

Perpustakaan Jakarta sebagai penyelenggara menilai acara ini sebagai bentuk pendekatan baru agar masyarakat melihat perpustakaan bukan hanya tempat membaca, tetapi juga ruang berekspresi. “Kami ingin menjadikan perpustakaan sebagai ruang hidup, tempat ide bertemu dengan seni dan diskusi,” kata salah satu panitia.

Ruang Berkumpul Generasi

Menjelang pukul 22.00 WIB, acara ditutup dengan tawa bersama dan foto kolektif. Meski malam kian larut, banyak pengunjung yang masih bertahan, enggan meninggalkan suasana hangat yang tercipta.

“Kalau acara di perpustakaan selalu seperti ini, pasti banyak anak muda yang datang. Tidak melulu buku, tapi juga musik, tawa, dan inspirasi,” tutur Indah sebelum beranjak pulang.

Acara Panggung Generasi menjadi bukti bahwa perpustakaan bukan hanya tempat sunyi, melainkan ruang publik yang bisa menyatukan kata, musik, puisi, dan generasi dengan dukungan langsung dari pemerintah provinsi melalui kehadiran Wagub Rano Karno.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama